Langsung ke konten utama

Hakikat antara sastra dan agama pada kehidupan makhluknya

Sastra mengandung makna yaitu instruksi atau pedoman yang merujuk pada sebuah jenis tulisan yang berarti keindahan tertentu akan tetapi sastra tidak selalu berbicara persoalan keindahan (estetika) kadang kalanya sastra berbicara akan pedoman kehidupan manusia. Sedangkan agama menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan manusia (kepercayaan). 

Pada sebuah hakikatnya makna dan cara kerja dari agama itu sendiri sebagai sumber cikal bakal  yang melahirkan hukum-hukum pada manusia sering kali memunculkan pedoman kebakuan alias tidak bisa diubah atau ditawar. Unsur pada agama sendiri pun terdiri dari dua hal yaitu subjek dan miracle yang dapat diartikan dari makhluk kepada tuhan.

Sekilas kita bisa melihat kalau sastra dan agama saling berkaitan dalam kehidupan manusia. Akan tetapi kalau dilihat dari secara benar-benar baik sastra maupun agama tidaklah saling kaitan. Karena esensi dari agama sebagai makna sebenarnya pada kehidupan manusia sangatlah berbeda dengan esensi sastra pada kehidupan manusia itu sendiri.

Peran sastra yang dimaknai sebagai sesuatu yang fleksibel dan tidak mengikat yang mengartikan kalimat kebebasan adalah kunci mutlak sastra sesungguhnya. Ibaratkan seperti manusia yang bebas berekspresi tanpa ada aturan yang mendoktrin otaknya sebagai manusia benar atau salah. Maka itu bisa dikatakan sebagai kebebasan.

Sedangkan dalam esensi agama kadang kali kita takut, tersinggung dan terhina kalau kita melihat agama dari sudut pandang dari sastra ke agama ataupun agama kita sendiri dicemooh oleh orang lain sebab pada intinya itu adalah hal omong kosong yang tidak beretika. karena agama adalah sesuatu yang mengikat pemikiran manusia dari kecil sampai dewasa. 

Postingan populer dari blog ini

Analisis drama Mastodon dan Burung Kondor (W.S Rendra)

Drama Mastodon dan Burung Kondor Sastra menyajikan kehidupan yang sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga meniru alam dan dunia subjektif manusia (Wellek dan Warren, 1989:109). Hubungan karya sastra dan kenyataan sosial telah menjadi objek yang dikritik sastrawan dengan pandangan bahwa sastra sebagai cerminan dari masayarakat. Hal tersebut mencakup pengertian bahwa sastra mencerminkan kehidupan sosial yang ada dalam masyarakat dan kalau pengarang memiliki taraf kepekaan tinggi, maka karya sastranya pasti juga mencerminkan kritik sosial yang tersembunyi dalam kehidupan masyarakat (Damono, 1979:4). Sebagai seorang penyair Rendra menyatakan diri sebagai seorang pemberi pandangan. Pandangan yang melihat dan memahami apa yang terjadi di masa rezim orde baru. Kesaksiannya tersebut ditunjukkan dalam karya sastra yaitu puisi dan drama. Begitu pun juga dengan kumpulan sajaknya yang berjudul  Potret Pembangunan dalam Puisi  (1980) yang merupakan kumpulan...

Kritik novel istri kedua (asma nadia)

Istri Kedua Dalam novel istri kedua karya asma Nadia, merupakan novel yang mengambil tema permasalahan di hubungan keluarga. Tetapi yang dilirik bukan seperti success story dan kebrokenan home di suatu keluarga. Yang dibahas disini adalah isu yang telah digandrungi sejak lama yaitu poligami. Poligami memang telah menjadi topik yang sangat ramai dibicarakan orang. Bukan hanya kalangan laki-laki sebagai pelaku poligami tetapi juga pada kalangan perempuan sebagai ‘korban’. Kasus poligami, pria idaman lain, dan wanita idaman lain selalu menyebar luas di kalangan masyarakat. Sebab permasalahan hal ini memang tidak sederhana. Seperti yang sering dikatakan orang yang sudah ahli dalam bidang ini. Dalam buku novel yang ditulis oleh pasangan suami istri penulis Asma Nadia dan Isa Alamsyah ini pada dasarnya berisi mengenai kisah-kisah nyata para pelaku poligami. Jadi dalam novel ini tidak hanya sekadar merekam kesuksesan atau kegagalan, tetapi mendeskripsikan dinamikanya. Riak-riak ...

KEBAIKAN YANG BEGITU MENYAKITKAN BAGI SEBAGIAN DARI KITA

Sesungguhnya, di negaraku ini. Ada pilihan yang mudah tetapi sebetulnya sulit dilakukan. Banyak orang, termasuk diriku yang selalu terjebak dalam pilihan sulit ini yaitu, saat dimana diriku ini berlagak memberikan penawaran mudah. Tapi nyatanya, hal itu hanya mendatangkan kesulitan terbaru dalam hidupku. Asal-usul kemudahan yang menyulitkan itu sesungguhnya berasal dari naluri dari kebaikan manusia. Kebaikanku. Lebih tepatnya, keinginanku dalam berbuat kebaikan. Atau mungkin persangkaanku bahwa aku ini mendeklarasikan diriku sendiri sebagai orang baik.  Untuk membuktikan hal itu yang kulakukan sebagai orang baik. Ialah jika ada, seorang maupun saudara yang berhutang kepadaku dan bertanya kapan dirinya harus membayar utangnya nanti, aku akan mengatakan “no problem bro” kepadanya. Begitulah awal mula dari titik masalahnya.  Ini menjadi dasar ini sangat kuat, sebagai pemebenaran dari tindakanku, sekali pun memiliki alasan yang sama kuat untuk menolak musibah yang akan datang nant...